Perjanjian Damai Terburuk, Versailles (Part 1)

Pada tahun 1918, setelah munculnya perjanjian Brest-Litovsk Jerman mulai mengalihkan bala tentaranya dari front timur ke front barat, serangan musim semi Jerman, suatu serangkan yang digadang-gadang akan membawa kemenangan bagi Jerman segera dimulai. Namun apa daya, harapan dan kenyataan memang seringkali berbeda, serangan itu gagal. Sejak saat itu kondisi militer Jerman semakin menyedihkan, ia mulai ditinggalkan oleh sekutu-sekutunya.

Jerman yang semakin terdesak pada akhirnya meminta perjanjian damai, sesuai dengan 14 pasal perdamaian yang terus diajukan oleh presiden Amerika Serikat, Woodrow Wilson, perdamaian dan bukan menyerah. Perang yang dipromosikan sebagai perang untuk mengakhiri segala peperangan yang bahkan sampai dijadikan film yakni Wonder Women pada akhirnya memang berakhir.

Namun berakhirnya perang bukanlah akhir dari segalanya, masalahnya bagaimana mengatur agar perang seperti ini tidak akan muncul lagi. Perjanjian seperti apa yang harus dibuat demi mencapai dunia yang lebih damai. Untuk menjawabnya, perwakilan dari berbagai negara di dunia bertemu di Prancis untuk membahas hal tersebut khususnya mengenai nasib negara Jerman yang dianggap sebagai antagonis utama dalam perang tersebut.

Awal Mula Disusunnya Perjanjian Versailles Oleh Sekutu

Hal yang menarik adalah sebenarnya bukan karena Jerman yang memulai perang, tetapi karena Jerman adalah negara central yang terkuat dibandingkan negara lainnya. Namun, usaha untuk mencapai perdamaian justru berakhir dengan perdebatan yang panjang. Seluruh perdebatan yang ada dapat disimpulkan menjadi 3 pendapat utama yang seringkali dikenal sebagai pendapat si tiga besar yaitu Amerika, Prancis dan Inggris.

Diantara ketiganya, Prancis adalah negara dengan kehancuran infrastruktur dan kerugian perang yang terbesar. Oleh karenanya Prancis sangat ingin membalas dendam atas hal itu dan kekalahannya dalam perang sebelumnya, khususnya dengan meminta kembali wilayah yang dulu dikuasainya. Prancis juga meminta ganti rugi dalam jumlah yang sangat besar dari Jerman untuk menutup kerusakan yang ada sekaligus menghilangkan ancaman Jerman selamanya.

Berbeda dengan Prancis, sebagai peserta terakhir yang bergabung dalam perang, Amerika mengalami kerugian finansial dan korban jiwa yang terkecil diantara ketiganya. Sejak awal Amerika sangat mempromosikan penggunaan dari 14 pasal perdamaian sebagai syarat untuk mencapai perdamaian. Oleh karenanya, ia sangat menentang dijatuhkannya sanksi yang berat bagi Jerman. Amerika bagaikan berkata, “bukankah 14 pasal perdamainan itu berarti semua pihak sepakat untuk berdamain, namun mengapa perjanjian menjadi seperti menghukum Jerman”.

Selain itu Amerika Serikat juga mendukung dibentuknya suatu organisasi bangsa-bangsa yang kuat untuk menyelesaikan konflik-konflik antar bangsa dengan damai. Organisasi adalah LBB atau Liga Bangsa Bangsa yang akan menjadi dasar dari dibentuknya PBB, Persekutuan Bangsa Bangsa. Berbeda dengan Prancis dan Amerika, dalam perang dunia pertama, Inggris mengalami kerusakan infrastruktur yang ringan, namun kerugian perang baik dari korban jiwa maupun finansial yang sangat besar.

Bagi Inggris sebagai negara kepulauan yang terpisah dari Eropa, menekan kekuatan militer Jerman khususnya angkatan lautnya adalah hal yang sangat penting. Sekalipun demikian Inggris tidak ingin Jerman terlalu hancur karena Jerman dan industrinya selalu menjadi rekan dagang yang sangat penting bagi perekonomian Inggris. Setelah melalui perdebatan yang panjang, sekutu akhirnya mencapai suatu kesepakatan dan menyusun perjanjian yang akan dikenal sebagai perjanjian Versailles.

Delegasi dari Jerman kemudian diundang untuk datang ke Paris, dihadapan mereka tertulis berbagai persyaratan yang harus dipenuhi dalam perjanjian tersebut. Melihat daftar persyaratan yang sangat memberatkan, delegasi Jerman sangat kaget dan berusaha untuk bernegosiasi kembali. Mereka merasa, negaranya bukan menyerah melainkan setuju untuk berdamai atas dasar 14 pasal perdamaian dari presiden Wilson.

Namun hal itu ditolak oleh mayoritas pihak sekutu yang merasa Jerman sebagai pihak yang memulai perang dan juga yang kalah hanya dapat menuruti setiap persyaratan yang telah dibuat sekutu. Hal ini akan berpengaruh secara signifikan bagi bangsa Jerman yang merasa bahwa mereka telah dibohongi dan dipaksa untuk mengikuti setiap dikte dari sekutu.